Surga Nyata Bawah Laut di Pusat Segiiga Karang Dunia
Kalender
Galery
Kondisi Geografi Daerah

Letak geografis,  Kabupaten Wakatobi berada dalam gugusan pulau-pulau di jazirah Tenggara Kepulauan Sulawesi Tenggara, tepatnya di sebelah Tenggara Pulau Buton. Secara astronomis terletak pada bagian selatan garis khatulistiwa, membentang dari Utara ke Selatan pada posisi garis lintang 5º12’ –6º25’ Lintang Selatan (sepanjang kurang lebih 160 km) dan garis bujur 123º20’ – 124º39’ Bujur  Timur (sepanjang kurang lebih 120 km),

 


Posisi Geostrategis, 

Kabupaten Wakatobi terletak pada posisi sangat strategis karena: (1) Perairan laut Kabupaten Wakatobi dilalui oleh jalur pelayaran kawasan Timur dan Barat Indonesia; (2) Ditinjau dari sisi bioregion, letak geografis Kabupaten Wakatobi sangat penting karena berada pada kawasan yang sangat potensial yakni diapit oleh Laut Banda dan Laut Flores yang memiliki potensi sumberdaya keragaman hayati kelautan dan perikanan yang cukup besar; dan (3) Kabupaten Wakatobi berada pada Pusat Kawasan Segi Tiga Karang Dunia (Coral Tri-angle Center) yang meliputi 6 (enam) negara, yakni Indonesia, Malaysia, Philipines, Papua New Guine, Solomon Island, dan Timor Leste.

Batas Administrasi Daerah

Wilayah Kabupaten Wakatobi diapit oleh perairan laut Buton, laut Banda dan laut Flores. Dengan demikian, maka batas-batas administratif daerah Kabupaten Wakatobi berada pada wilayah perairan laut, sebagai berikut :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah perairan laut Kabupaten Buton dan Buton Utara
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Banda
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores
  • Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah perairan laut Kabupaten Buton.

Luas Wilayah

Luas wilayah Kabupaten Wakatobi adalah sekitar 18.377 km², terdiri dari daratan  seluas ± 823 km²  atau  hanya  sebesar  3%,  dan luas perairan ± 17.554 km2 atau sebesar 97 % dari luas Kabupaten Wakatobi adalah perairan laut. Secara administratif Kabupaten Wakatobi terdiri dari 8 wilayah kecamatan, 75 desa dan 25 kelurahan. Wilayah kecamatan terluas adalah kecamatan Wangi-Wangi dengan luas 241 km² (29,40%) yang sekaligus merupakan wilayah ibokota Kabupaten, sedangkan kecamatan yang wilayahnya paling kecil adalah kecamatan Kaledupa, yaitu seluas 45,50 km² (5,53%), selengkapnya disajikan pada Tabel 1  sebagai berikut :

Tabel 1.   Luas Wilayah Daratan Kabupaten Wakatobi Menurut Wilayah Administrasi Kecamatan, Tahun 2011.

 

No.

Kecamatan

Jumlah Desa

Jumah Kelurahan

Luas Daratan (km²)

Prosentase (%)

1.

Wangi-Wangi

14

6

241,98

  29,40

2.

Wangi-Wangi Selatan

18

3

206,02

  25,03

3.

Kaledupa

12

4

  45,50

    5,53

4.

Kaledupa Selatan

10

-

  58,50

    7,11

5.

Tomia

8

2

  47.10

    5,72

6

Tomia Timur

5

4

  67,90

    8,25

7

Binongko

5

4

  93,10

   11,31

8

Togo Binongko

3

2

   62,90

     7,64

Total

75

25

823,00

100,00

Sumber : Kabupaten Wakatobi Dalam Angka, 2011


Topografi

Kepulauan Wakatobi merupakan gugusan pulau-pulau karang yang sebagian besar (70%) memiliki topografi landai, terutama dibagian selatan pulau Wangi-Wangi, bagian utara dan selatan pulau Kaledupa, bagian Barat dan Timur pulau Tomia, serta wilayah bagian selatan pulau Binongko, dengan ketinggian tempat berkisar antara 3 – 20 meter diatas permukaan laut. Sedangkan  bentuk topografi perbukitan, berada di tengah-tengah pulau dengan ketinggian berkisar antara 20-350 m dpl.

Selain bentangan pulau-pulau kecil, relief dan topografi, di Kabupaten Wakatobi juga membentang Gunung Tindoi di Pulau Wangi-Wangi, Gunung Pangilia di Pulau Kaledupa, Gunung Patua di Pulau Tomia dan Gunung Watiu’a di Pulau Binongko. Pada puncak gunung di empat pulau besar tersebut, terdapat situs peninggalan sejarah berupa benteng dan makam yang sangat erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam di Kabupaten Wakatobi maupun sejarah perkembangan kejayaan Kesultanan Buton, Tidore, dan Ternate.  Situs sejarah dimaksud ialah Benteng Liya, Benteng Tindoi, Benteng Patu’a, dan Benteng Suosuo serta peninggalan benda-benda purbakala lainnya. Kesemuanya merupakan aset daerah yang sangat berharga, terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan sebagai obyek wisata budaya, baik nasional maupun internasional.

Hidrologi dan Geologi

Secara umum di Kabupaten Wakatobi tidak terdapat sungai yang mengalir sepanjang tahun. Sumber mata air umumnya berasal dari air tanah (ground water) dari wilayah perbukitan dan gua-gua karst yang oleh penduduk setempat disebut “Tofa/Loba/Lia”. Daerah Aliran Sungai (DAS) seperti DAS Posalu, Banduha-nduha, dan Waginopo di Kecamatan Wangi-Wangi mempunyai peranan penting pada ketersediaan air tanah. Dalam konteks ini, peranan vegetasi terutama hutan sangat penting dalam konservasi air tanah.  Permukaan air terutama pada gua-gua karst dan sumur penduduk banyak dipengaruhi oleh naik turunnya muka air laut, memberikan indikasi tentang pentingnya perlindungan daerah pantai dari pengaruh abrasi.

Berdasarkan peta geologi Lembar Kepulauan Tukang Besi Sulawesi Tenggara skala 1 : 25.000 tahun 1994 menunjukkan bahwa secara umum formasi geologi Wakatobi dikelompokkan dalam formasi geologi Qpl dengan jenis bahan induk batu gamping koral. Jenis tanah yang tersebar pada beberapa tempat di empat pulau Kabupaten Wakatobi ialah jenis organisol, alluvial, grumosol, mediteran, latosol, serta didominasi oleh podsolik.  Formasi geologi batuan daratan dengan bahan induk batu gamping jenis koral dan dominasi tanah podsolik, secara umum mengindikasikan kesuburan tanah yang rendah akibat pH dan bahan organik rendah. Terkait hal tersebut, pemerintah daerah akan mencanangkan program pertanian terpadu yang berbasis ekologi (integrated ecofarming).

Iklim dan Musim

Menurut klasifikasi Schmidt-Fergusson, iklim di Kepulauan Wakatobi termasuk tipe C, dengan dua musim yaitu musim kemarau (musim timur: April–Agustus) dan musim hujan (musim barat: September–April).  Musim angin barat berlangsung dari bulan Desember sampai dengan Maret yang ditandai dengan sering terjadi hujan.  Musim angin timur berlangsung bulan Juni sampai dengan September. Peralihan musim yang biasa disebut musim pancaroba terjadi pada bulan Oktober-November dan bulan April-Mei.

Berdasarkan pencatatan dari Stasiun Meteorologi Kls III Betoambari, curah hujan di Kepulauan Wakatobi 10 tahun terakhir berkisar antara 0,4-288,2 mm (Gambar 5), curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember dengan rata-rata mencapai 19,51 mm (Gambar 6). Jumlah hari hujan mengikuti pola jumlah curah hujan dengan kisaran antara 1-19 hari hujan. Suhu udara maksimum berkisar 31,5-34,40C dan suhu udara minimum berkisar pada 22,3-24,90C, dengan kisaran suhu rata-rata antara 23,7-32,40C. Kelembaban udara antara 71-86%

Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi
Jln. Samburaka No. 4 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi Telp. / Fax : 0404 - 21011 Email : humas.wakatobikab@gmail.com
Sukses Update Data